Made Sidia Garap Karya Teater Libatkan Gajah

Denpasar (Antara Bali) – I Made Sidia, dosen pedalangan Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar menggarap karya teater melibatkan 200 seniman pendukung dan memanfaatkan lima ekor gajah untuk mendukung pementasan yang dilaksanakan di Taman Safari, Gianyar, Senin malam.

Garapan karya seni berjudul “Kalangoan Wana Dandaka”, digelar untuk memenuhi salah satu syarat ujian program magister, Program Studi Penciptaan Seni, Program Pasca Sarjana pada ISI Surakarta.

Garapan inovatif tersebut berdurasi sekitar 80 menit mendapat perhatian besar dari masyarakat sekitarnya.

Pergelaran di alam terbuka itu diawali dengan “dolanan” anak-anak yang dikemas menarik dan munculnya ungkapan dari karakter anak-anak yang mampu mengundang tawa.

Pesan terkini pun tidak luput dari “dolanan” belasan anak-anak, termasuk diantaranya untuk waspada terhadap maraknya penggunaan “facebook”.

Menyusul pementasan di tengah kegaduhan perdebatan anak-anak, dalang I Made Sidia  muncul dari balik layar dengan membawa wayang.

Konsep garapan Dalang Sidia adalah pengenalan filosofi kehidupan “Trihita Karana”, hubungan yang harmonis dan serasi sesama manusia, manusia dengan lingkungan dan manusia dengan Tuhan Yang Maha Esa dalam epos cerita Ramayana.

Ia ingin membangkitkan kembali budaya bercerita “mendalang” kepada anak-anak yang belakangan sangat jarang dilakukan orang tua terhadap putra-putrinya.

Lebih unik dan menarik, Made Sidia memanfaatkan lima ekor gajah koleksi Taman Safari, Gianyar untuk mendukung pementasan, yakni gajah dijadikan kendaraan Sri Rama dan Prabu Rahwana.

Kelima ekor gajah dalam pagelaran itu mampu memberikan nilai lebih, sehingga adegan-adegan yang ditampilkan cukup mengagumkan, seperti menyelematkan nyawa manusia di dalam air, beradegan pincang setelah kalah dalam peperangan.

Dalam kisahnya Dewi Sinta diculik oleh Rahwana. Lewat mendalang Made Sidia mulai menceritakan kisah tentang keindahan hutan Dandaka, dengan aneka satwa yang hidup di dalamnya.

Demikian pula di atas panggung muncul penari yang memerankan perilaku beraneka satwa antara lain sosok burung, kera, jerapah, kupu-kupu dan ayam.

Penari semuanya menggunakan busana dan menyerupai binatang yang digambarkan tersebut. (http://bali.antaranews.com)