Profile

 

Bapa Sidja

“I Made Sidja” Pendiri dan Sesepuh Sanggar Paripurna

Sanggar Paripurna didirikan pada tanggal 1 April 1990 oleh seniman multi talenta asal Desa Bona, Kecamatan Blahbatuh, I Made Sidja, tersebut mencakup berbagai bidang kesenian, seperti seni pedalangan, seni wayang, seni tabuh, seni tari, seni pertunjukan, seni ukir kulit, seni membuat sesajen, dan yang lainnya. Pendirian Sanggar Paripurna dimaksudkan sebagai pusat pelestarian, pengembangan dan penciptaan seni budaya Bali. Sanggar ini terutama menampung dan mengasah bakat seni anak-anak putus sekolah atau mereka yang sudah tamat sekolah tetapi belum bekerja.

I Made Sidja

 

Dalam perkembangannya, kepemimpinan Sanggar Paripurna dilanjutkan oleh putra keempat I Made Sidja, yaitu I Made Sidia, SSP, M.Sn. dengan dibantu oleh saudara bungsunya I Wayan Sira, S.Sn. Saat ini sanggar tersebut telah memiliki sekitar 400 orang anggota dari berbagai usia dan profesi. Berkat tangan dingin I Made Sidia, Sanggar Paripurna semakin eksis dengan berbagai karya seni kreatif dan inovatif tanpa mengabaikan nilai-nilai tradisional budaya Bali sebagaimana ditanamkan oleh I Made Sidja. Hasil-hasil karya Sidia bersama Sanggar Paripurna telah ditampilkan dalam berbagai acara penting, baik yang bertaraf lokal, nasional maupun internasional. Berbagai pagelaran seni di dalam dan di luar negeri telah dilakoni oleh Sidia dan sanggar seninya. Di antaranya adalah menampilkan Pementasan Pentas Wayang Listrik “Yudistira Become The King” pada Acara  1st China Nanchong International Puppet Art Week, China 1 s/d 7 Juni 2014 dan memperoleh Award “The Best Of Drama” bersama UNIMA Indonesia  sebagai wakil dari indonesia dan juga menampilkan ppementasan Tari Kecak pada acara Internationale Tourismus-Börse (ITB) Berlin 2013 di  Berlin, Jerman pada 6 s/d 10 Maret 2013. Namun demikian, Sanggar Paripurna tidak melepaskan diri dari fungsi sosialnya dalam kehidupan masyarakat Bali yang sarat dengan aktivitas ritual keagamaan. Sidia selaku pribadi atau bersama sanggarnya masih sering terlibat dalam tradisi ngayah atau melaksanakan aktivitas seni secara sukarela untuk mengiringi acara-acara ritual keagamaan.

 

generations300x300

Generasi Penerus

I Made Sidia yang lahir pada tanggal 16 Maret 1967 adalah alumnus jurusan pedalangan di Sekolah Tinggi Seni Indonesia (STSI) Denpasar tahun 1992. Sejak tahun 1993 Sidia terdaftar sebagai dosen di almamaternya yang kini bernama Institut Seni Indonesia (ISI) Denpasar. Ia mewarisi talenta seni ayahndanya yang terus diasah sejak masa kanak-kanak hingga menjadi seorang seniman yang mumpuni di berbagai bidang seni. Kiprah kesenian Sidia, baik dalam bentuk pementasan maupun pengajaran dan pelatihan, telah merambah level lokal, nasional dan internasional. Dalam berkarya Sidia seringkali berkolaborasi dengan seniman-seniman lain, termasuk dari luar negeri. Salah satu hasil kreativitas dan inovasi Sidia yang sudah terkenal adalah “Teater Bali Agung”  yang dipentaskan secara rutin di “Bali Theatre” yang dikelola oleh Bali Safari & Marine Park Gianyar dan yang terbaru menciptakan tari “Tek Tok Dance”  yang bekerjasama dengan I Gusti Gde Jelantik sebagai penggagas ide, merupakan pertunjukkan yang memadukan tari dan olah vokal yang dipentaskan secara rutin di Puri Kantor, Ubud, Gianyar.